Hal itu mempertimbangkan kondisi sebagian besar sektor ekonomi cenderung memburuk salah satunya akibat pandemi virus Corona. Menurut Josua, perlambatan ekonomi global sejak tahun 2019 lalu ditandai dengan penurunan harga komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit juga turut mempengaruhi permintaan kredit perbankan. Pertumbuhan kredit perbankan ini, menurut Josua, memiliki pola procyclicality dengan siklus perekonomian. Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai kondisi industri perbankan masih cukup kuat. Kelompok bank dengan aset kecil menjadi yang paling rentan terdampak apalagi kelompok ini sudah sulit bertumbuh sebelum merebaknya pandemi Covid-19.
Source: Koran Tempo April 12, 2020 02:15 UTC