Sebab menurut dia, masalah yang melatarbelakangi itu tidak sederhana dan tidak juga akan tuntas dengan ancaman pencabutan insentif. Kedua, dia melanjutkan, dana riset yang tersedia relatif kecil dan tersedot ke perguruan tinggi yang sudah matang. Para profesor yang ada, kata Asep, tidak terbiasa menulis paper dalam bahasa Inggris yang mudah dibaca. Berbeda dengan profesor di Malaysia dan Singapura, mereka sudah mahir berbahasa Inggris sejak SD bahkan TK. Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tidak segan-segan memangkas tunjangan kehormatan Profesor yang tidak produktif menulis ilmiah.
Source: Republika February 23, 2018 00:00 UTC