Khususnya, dari satu bagian korteks yang memang membutuhkan efek-efek eksistensi dan kebahagiaan. Bila itu tidak didapatkan di sekolah, anak-anak tentu tidak memiliki ruang untuk membangun emosi secara seimbang. Hal itu dikarenakan anak-anak membutuhkan luapan, dan bila ketidakhadiran ruang itu di rumah sama seperti di sekolah, tuntutan itu semakin menguat. "Kita semakin mudah menjangkau informasi itu, dan ketika kita memperoleh berita membutuh dan sebagainya itu biasa, karena diberitakan seolah itu biasa, anak-anak jadi lebih mudah memperoleh informasi kekerasan," ujar pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tersebut. "Tapi, ketika guru punya perspektif berbeda terkait karakter anak muda di era milenial, guru ini akan memandang apa yang dilakukan anak semata-mata negatif," kata Rizal.
Source: Republika February 06, 2018 02:26 UTC