REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Bhima Yudhistira menilai, ketergantungan pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap konsumsi mempengaruhi kualitas daya saing dan produktivitas perekonomian suatu negara. Di sisi lain, apabila porsi sektor konsumsi dominan tanpa diimbangi kenaikan investasi dan sektor manufaktur, maka kebutuhan konsumsi akan ditutup melalui impor. Saat itu, konsumsi tumbuh 5,05 persen, namun pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,27 persen atau stagnan shingga membuat impor barang konsumsi naik 22 persen. Saat ini, porsi konsumsi rumah tangga Negeri Ginseng tersebut mencapai 49 persen, belanja pemerintah 15 persen, investasi 30 persen dan ekspor 43 persen. Dulu, pada tahun 1960, posisi Indonesia dan Korea Selatan berada di low income country dengan tumpuan masih di konsumsi yang dominan.
Source: Republika May 26, 2019 12:22 UTC