REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Saeful Mujani Research & Counsulting (SMRC) Saidiman Ahmad memandang penggunaan istilah cebong dan kampret berpeluang memecah belah bangsa. Diketahui, istilah itu mulai mencuat sejak Pilpres 2014 guna menggambarkan pendukung Jokowi (cebong) dan pendukung Prabowo (kampret). Saidiman mengungkapkan, labelling serupa cebong dan kampret pernah digunakan di negara Rwanda ketika perang berkecamuk. Sementara itu, politikus PDIP Budiman Sudjatmiko menekankan tak pernah menggunakan istilah kampret ketika menyebut lawan politiknya. Di sisi lain, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat F Hutahean memandang istilah cebong dan kampret kini sudah biasa digunakan masyarakat.
Source: Republika October 12, 2018 11:09 UTC