Itulah shalat yang sesungguhnya, men jadi terapi bagi manusia agar tetap berada dalam fitrahnya yang hanif dan tegas menolak maksiat. Ya, jika shalat berbarengan dengan maksiat, ibadah shalatnya hanya melibatkan raga tanpa jiwa. Selain kehadiran hati, shalat juga harus dilaksanakan dengan niat ikhlas, didasari cinta ke pada Allah, dan mengharap ridha-Nya semata. Jadi, shalat yang dapat membentengi diri manusia dari godaan syahwat sekaligus meno lak maksiat adalah shalat yang melibatkan hati dan didasari oleh rasa cinta kepada-Nya. Shalat yang melibatkan hati akan menjadikan mushalli (orang yang shalat) senantiasa mengingat Allah, baik di dalam mapun di luar shalatnya; maka Allah pun selalu mengingatnya.
Source: Republika April 02, 2019 15:45 UTC