Oleh : Dr Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra JakartaREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Di sebuah dunia yang semakin diatur oleh kalkulasi untung-rugi, di mana hidup sering direduksi menjadi sekadar bertahan, kematian Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menghadirkan sebuah kisah filosofis yang sulit diabaikan. Ali Larijani bukan hanya tokoh politik senior Iran dan arsitek kebijakan dan strategi militer Iran, namun juga dikenal sebagai filsuf yang selain memahami filsafat Islam, juga pemikiran Immanuel Kant. Dalam detik-detik terakhir kehidupannya, ia memilih untuk menegaskan sebuah cara pandang tentang hidup dan mati yang tidak lagi umum dalam dunia modern. Kita hidup dalam zaman yang diwarisi oleh logika Thomas Hobbes, yang melihat manusia sebagai makhluk yang secara fundamental berusaha mempertahankan hidupnya. Namun apa yang ditunjukkan oleh Larijani, dan jauh sebelumnya oleh Imam Husain di Karbala, adalah bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar bertahan hidup.
Source: Republika March 20, 2026 16:54 UTC